Asbabun Nuzul

A.   PENDAHULUAN
Pada masa Nabi Muhammad Saw. terkadang ada suatu pertanyaan yang dilontarkan kepada beliau, dengan maksud meminta ketegasan, keterangan hukum atau memohon penjelasan secara terperinci tentang urusan-urusan agama, sehingga turunlah satu atau beberapa ayat dari Allah Swt. maka, hal yang seperti itu yang dimaksud dengan Asbabun Nuzul atau sebab-sebab turunnya  ayat Al-Qur’an.
 Sedemikian pentingnya  Asbabun Nuzul hingga Ali ibnu al-Madiny guru dari Imam al-Bukhari R.A. menyusun ilmu Asbabun Nuzul secara khusus. Kemudian ilmu Asbabun Nuzul  berkembang sehingga memudahkan para mufassirin dalam menerjemahkan ayat-ayat Al-Qur’an serta memahami isi kandungannya.
Dalam makalah singkat ini membahas sedikit tentang hal-hal yang berkaitan dengan Asbab-An-Nuzul, mulai dari pengertian, macam-macam, fungsi penting dari Asbabun Nuzul  itu sendiri serta kaidah yang terkandung dalam penetapan hukum yang terkait dalam Asbabun Nuzul. Namun, kesempurnaan makalah ini kami sadari masih sangatlah jauh dan kurang, sehingga memungkinkan bagi muslim, muslimah untuk terus belajar dan mendalaminya di kesempatan yang mendatang.

B.  RUMUSAN MASALAH
1.    Apa pengetian dari  “Asbabun Nuzul”.
2.   Pembagian, macam “ Asbabun Nuzul”.
3.   Fungsi penting “Asbabun Nuzul”.
4.   Apakah faedah (manfaat) dari mempelajari “ Asbabun Nuzul” .

C. TUJUAN PENULISAN
Tujuan dari pembahasan makalah ini adalah agar dapat  lebih mengerti tentang Asbabun Nuzul, dan lebih memudahkan dalam mempelajari lebih jauh lagi sehingga dalam proses mempelajarinya tidak menemukan banyak kesulitan. Disamping hal tersebut juga penulisan ini dimaksudkan sebagai memenuhi tugas yang dibebankan oleh dosen mata kuliah “Ulumul Qur’an Teori dan Metode Pembelajarannya” bapak Prof. Dr. H. M. Ghalib, M.A. dan bapak Dr. H. Aminuddin Mamma, M.Ag. pada program strata dua (S2) prodi Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Parepare, tahun kuliah 2011 – 2012.

D. PENGERTIAN ASBABUN NUZUL
Menurut bahasa (etimologi),  Asbabun Nuzul  berarti turunnya ayat-ayat al-Qur’an dari kata “asbab” jamak dari “sababa” yang artinya sebab-sebab, “nuzul”  yang artinya turun, yang dimaksud adalah ayat Al-Qur’an. Asbabun Nuzul: suatu peristiwa atau kejadian  yang menyebabkan turunnya ayat-ayat Al-Qur’an baik secara langsung atau tidak langsung.
Menurut istilah atau secara Terminologi Asbabun Nuzul ada beberapa pengertian, diantaranya :
  1. Menurut Az-Zarqani “Asbabun Nuzul  adalah hal khusus atau sesuatu yang terjadi serta hubungan dengan turunnya ayat Al-Qur’an yang berfungsi sebagai penjelas hukum  pada saat peristiwa itu terjadi”.
  2. Ash-Shabuni “Asbabun Nuzul adalah peristiwa atau kejadian yang menyebabkan turunnya satu atau beberapa ayat mulia yang berhubungan dengan peristiwa dan kejadian tersebut, baik berupa pertanyaan yang diajukan kepada Nabi atau kejadian yang berkaitan dengan urusan agama”.
  3. Subhi Al Shaleh “Asbabun Nuzul adalah sesuatu yang menjadi sebab turunnya satu atau beberapa ayat Al-Qur’an yang terkadang mengisaratkan suatu peristiwa sebagai respon atasnya atau sebagai penjelas terhadap hukum-hukum ketika peristiwa itu terjadi” 
  4. Mana’ Al-Qathan “Asbabun Nuzul adalah peristiwa yang menyebabkan turunnya al-Qur’an berkenaan dengannya waktu peristiwa itu terjadi, baik berupa satu kejadian atau berupa pertanyaan yang diajukan kepada Nabi Muhammad Saw.”
  5. Nurcholis Madjid Menyatakan bahwa asbab al-nuzul adalah konsep, teori atau berita tentang adanya sebab-sebab turunnya wahyu tertentu dari Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad Saw. baik berupa satu ayat, satu rangkaian ayat maupun satu surat.
Penulis berpendapat bahwa meskipun  pendefinisian di atas masing-masing berpendapat sedikit berbeda, tetapi semuanya menyimpulkan bahwa Asbabun Nuzul  adalah kejadian atau peristiwa yang melatarbelakangi turunnya ayat Al-Qur’an dalam rangka menjawab, menjelaskan dan menyelesaikan masalah-masalah yang timbul dari kejadian tersebut.
Mengutip pengertian dari Subhi Al-Shaleh kita dapat mengetahui bahwa Asbabun Nuzul ada kalanya berbentuk peristiwa atau juga berupa pertanyaan.
Pembagian, macam Asbabun Nuzul yang berupa peristiwa itu sendiri yang kadang diajukan pada Muhammad Saw. terbagi menjadi 3 macam, yaitu :
  1. Peristiwa berupa pertengkaran seperti kisah turunnya surat Ali Imran : 100
    Yang bermula dari adanya perselisihan oleh kaum Aus dan Khazraj hingga turun ayat 100 dari surat Ali Imran yang menyerukan untuk menjauhi perselisihan.
    Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mengikuti sebahagian dari orang-orang yang diberi Al Kitab, niscaya mereka akan mengembalikan kamu menjadi orang kafir sesudah kamu beriman. (Q.S. Ali Imran (3): 100).
  2. Peristiwa berupa kesalahan yang serius seperti kisah turunnya surat an-Nisa’ : 43
    Saat itu ada seorang Imam shalat yang sedang dalam keadaan mabuk, sehingga salah mengucapkan surat Al-Kafirun, surat An-Nisa’ turun dengan perintah untuk menjauhi shalat dalam keadaan mabuk.
    Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam Keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri mesjid) sedang kamu dalam Keadaan junub[301], terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi. dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau datang dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, Maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci); sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pema'af lagi Maha Pengampun. (Q.S. An Nisaa (4): 43).
    [301] Menurut sebahagian ahli tafsir dalam ayat ini termuat juga larangan untuk bersembahyang bagi orang junub yang belum mandi.
  3. Peristiwa berupa Cita-cita/keinginan. Ini dicontohkan dengan cita-cita Umar bin Khattab yang menginginkan Maqam Ibrahim sebagai tempat shalat, lalu turun ayat.
    Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim[89] tempat shalat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: "Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i'tikaf, yang ruku' dan yang sujud". (Q.S. Al Baqarah (2): 125).
    [89] Ialah tempat berdiri Nabi Ibrahim A.S. diwaktu membuat Ka'bah.
Pembagian, macam  Asbabun Nuzul yang berupa pertanyaan diajukan pada Muhammad Saw.  dibagi menjadi 3 macam, yaitu :
  1. Pertanyaan tentang masa lalu seperti :  Mereka akan bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Dzulkarnain. Katakanlah: "Aku akan bacakan kepadamu cerita tantangnya". (QS. Al-Kahfi(18): 83)
    Mereka akan bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Dzulkarnain. Katakanlah: "Aku akan bacakan kepadamu cerita tantangnya". (QS. Al-Kahfi(18): 83).
  2. Pertanyaan yang berhubungan dengan sesuatu yang sedang berlangsung pada waktu itu seperti ayat:
    Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: "Roh itu Termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit". (QS. Al-Isra’(17) : 85).
  3. Pertanyaan tentang masa yang akan datang : “(orang-orang kafir) bertanya kepadamu (Muhammad) tentang hari kebangkitan, kapankah terjadinya?”
    Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat: "Bilakah terjadinya?" Katakanlah: "Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu adalah pada sisi Tuhanku; tidak seorangpun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. kiamat itu Amat berat (huru haranya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi. kiamat itu tidak akan datang kepadamu melainkan dengan tiba-tiba". mereka bertanya kepadamu seakan-akan kamu benar-benar mengetahuinya. Katakanlah: "Sesungguhnya pengetahuan tentang bari kiamat itu adalah di sisi Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui". (Q.S. Al ‘Araf (7): 187).

E.     FUNGSI PENTING  ASBABUN NUZUL

  1. Penegasan bahwa al-Qur’an benar-benar dari Allah Swt. bukan buatan manusia.
  2. Penegasan bahwa Allah benar-benar memberikan perhatian penuh pada Rasulullah Saw. dalam menjalankan misi risalahnya.
  3. Penegasan bahwa Allah selalu bersama para hambanya (khususnya Muhammad Saw.) dengan menghilangkan duka cita mereka.
  4. Sarana memahami ayat secara tepat, tepat sesuai peruntukannya, walau harus diketahui bahwa bukan berati ayat tersebut tidak dijadikan dasar untuk perkara yang lain, yang punya persoalan yang sama.
  5. Mengatasi keraguan pada ayat yang diduga mengandung pengertian umum.
  6. Mengkhususkan hukum yang terkandung dalam Al-Qur’an sesuai dengan sebabnya.
  7. Mengidentifikasikan pelaku yang menyebabkan turunnya ayat ayat Al-Qur’an.
  8. Memudahkan untuk menghafal dan memahami ayat serta untuk memantapkan wahyu di hati orang yang mendengarnya.
  9. Mengetahui makna serta rahasia-rahasia yang terkandung dalam ayat Al-Qur’an.
  10. Seorang dapat menentukan apakah ayat mengandung pesan khusus atau umum dan dalam  keadaan bagaimana ayat itu mesti diterapkan.
  11. Terakhir bahwa harus dipahami juga bahwa tidak semua ayat dalam Al Qur’an ditemukan asbabun nuzulnya.

F.   CARA MENGETAHUI RIWAYAT ASBABUN NUZUL

Asbabun Nuzul  adalah peristiwa yang terjadi pada zaman Rasulullah Saw. oleh karena itu, tidak boleh tidak ada jalan lain untuk mengetahuinya selain berdasarkan periwayatan (pentransmisian) yang benar (Naql As-Shalih) dari orang-orang yang melihat dan mendengar langsung turunnya ayat Al-Qur’an.
Al-Wahidi berkata : “Tidak boleh memperkatakan tentang sebab-sebab turun al-Qur’an melainkan dengan dasar riwayat dan mendengar dari orang-orang yang menyaksikan ayat itu diturunkan dengan mengetahui sebab-sebab serta membahas pengertiannya”.
Sejalan dengan itu, Al-Hakim menjelaskan dalam ilmu Hadis bahwa apabila seorang sahabat yang menyaksikan masa wahyu dan al-Qur’an diturunkan, meriwayatkan tentang suatu ayat Al-Qur’an bahwa ayat tersebut turun tentang suatu (kejadian), Ibnu Al-Salah dan lainnya juga sejalan dengan pandangan ini.
Berdasarkan keterangan di atas, maka Asbabun Nuzul yang diriwayatkan dari seorang sahabat diterima sekalipun tidak dikuatkan dan didukung riwayat lain. Adapun Asbabun Nuzul dengan hadis mursal (hadis yang gugur dari sanadnya seorang sahabat dan mata rantai periwayatnya hanya sampai kepada seorang tabi’in), riwayat seperti ini tidak diterima kecuali sanadnya Sahih dan dikuatkan Hadis Mursal lainnya.
Biasanya ulama menggunakan lafadz-lafadz yang tegas dalam penyampaiannya, seperti: “sebab turun ayat ini begini”, atau dikatakan dibelakang suatu riwayat “maka turunlah ayat ini”.
Contoh : “beberapa orang dari golongan Bani Tamim mengolok-olok Bilal, maka turunlah ayat:
Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh Jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh Jadi yang direndahkan itu lebih baik. dan janganlah suka mencela dirimu sendiri[1409] dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman[1410] dan Barangsiapa yang tidak bertobat, Maka mereka Itulah orang-orang yang zalim. (Q.S. Al Hujrat (49): 11). [1409] Jangan mencela dirimu sendiri Maksudnya ialah mencela antara sesama mukmin karana orang-orang mukmin seperti satu tubuh. [1410] Panggilan yang buruk ialah gelar yang tidak disukai oleh orang yang digelari, seperti panggilan kepada orang yang sudah beriman, dengan panggilan seperti: Hai fasik, Hai kafir dan sebagainya.

G.   KAIDAH PENETAPAN HUKUM DIKAITKAN DENGAN ASBABUN NUZUL

Asbabun Nuzul  sangatlah erat kaitannya dengan kaidah penetapan hukum. Seringkali terdapat kebingungan dan keraguan dalam mengartikan ayat-ayat al-Qur’an karena tidak mengetahui sebab turunnya ayat. Contohnya firman Allah dalam surat al-Baqarah ayat 115 sebagai berikut:
Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, Maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah[83]. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha mengetahui. (Q.S. Al Baqarah (2): 115). [83] Disitulah wajah Allah maksudnya; kekuasaan Allah meliputi seluruh alam; sebab itu di mana saja manusia berada, Allah mengetahui perbuatannya, karena ia selalu berhadapan dengan Allah.
Firman Allah di atas turun berkenaan dengan suatu peristiwa yaitu beberapa orang mukmin menunaikan shalat bersama Rasulullah Saw. pada suatu malam yang gelap gulita sehingga mereka tidak dapat memastikan arah Qiblat dan akhirnya masing-masing menunaikan shalat menurut perasaan masing-masing sekalipun tidak menghadap arah Qiblat karena tidak ada cara untuk mengenal Qiblat. Seandainya tidak ada penjelasan mengenai  Asbabun Nuzul  tersebut, mungkin masih ada orang yang menunaikan shalat menghadap ke arah sesuka hatinya dengan alasan firman Allah surat al-Baqarah ayat 115.

H.  KESIMPULAN

  1. Asbabun Nuzul adalah sebab turunnya al-Qur’an (berupa peristiwa/pertanyaan) yang melatarbelakangi turunnya ayat Al-Qur’an dalam rangka menjawab, menjelaskan dan menyelesaikan masalah-masalah yang timbul dari kejadian tersebut.
  2. Asbabun Nuzul  terdiri dari kata ” asbab “  (jamak dari sababa yang artinya sebab-sebab), dan “nuzul” (artinya turun).
  3. Macam-macam Asbabun Nuzul dari segi waktu.
  4. Urgensi Asbabun Nuzul
    • Penegasan bahwa al-Qur’an benar dari Allah.
    • Penegasan bahwa Allah benar-benar memperhatikan Rasul dalam menjalankan misi risalahnya.
    • Penegasan bahwa Allah selalu bersama para hambanya dengan menghilangkan duka cita serta keraguan mereka.
    • Sarana memahami ayat.
    • Mengatasi keraguan ayat yang diduga mengandung pengertian umum.
    • Mengkhususkan hukum yang terkandung dalam Al-Qur’an.
    • Mengidentifikasi pelaku yang menyebabkan turunnya ayat.
    • Mengetahui makna serta rahasia yang terkandung dalam Al-Qur’an
    • Menentukan apakah ayat mengandung pesan khusus/umum.
  5.  Cara mengetahui riwayat Asbabun Nuzul  melalui periwayatan yang benar dari orang-orang yang melihat, mendengar langsung turunnya ayat.
  6.  Kaidah hukum yang belum jelas dalam Al-Qur’an, dapat dipermudah dengan mengetahui Asbabun Nuzulnya. Karena dengannya penafsiran ayat lebih jelas untuk dipaham

2 komentar :

  1. Bagus penjelasannya, terimakasih sudah share ilmu. Saya jadi terinspirasi untuk nulis blog tentang asbabunnuzul. Ini sebagian materi yg sudah di publish kompilasi asbabunnuzul quran

    BalasHapus
  2. Terima Kasih, Semoga kita dapat lebih banyak waktu dalam berbagi ilmu yang Hak

    BalasHapus