ASMAUL HUSNA (11 - 12) MAHA MENCIPTAKAN, MAHA MENGADAKAN

Jiwa dan raga merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan, ketenangan jiwa berdampak kebugaran raga, keelokan tubuh dan kegoncangan jiwa berakibat kelemahan otot, otak, jantung, pencernaan dan lain-lain sehingga organ badan menjadi lemah paling tidak kurang berfungsi yang semuanya akan mengakibatkan tubuh lemah dan segera tiba berbagai macam penyakit.

Jiwa, rohani tenang dan bahkan menjadi puas, bahagia jika yang bersangkutan telah secara sempurna/gemilang dalam mencapai sukses sesuai dengan apa yang mereka programkan dengan penuh pengabdian dan pengorbanan. Mungkin hal itu dalam jangka waktu yang pendek, mungkin juga dalam jangka waktu yang sedang dan bahkan mungkin dalam jangka waktu yang cukup lama. Sangat jelas/terang jika meraih sukses pada program tersebut sesuai dengan apa yang ditargetkan, maka yang bersangkutan mesti sangat senang, bahagia dan lain sebagainya.

Kesenangan, kebahagiaan yang diperoleh seseorang nampak jelas dalam beberapa contoh yang kongkrit di tengah-tengah masyarakat misalnya:
  1. Ketenangan jiwa dan raga yang diperlihat bagi seorang yang tamat: SDN, SMPN. STMN, SMA. Dan bahkan bagi yang tamat Madrasah Aliyah Negeri demikian pula halnya yakni mereka kadang mencoret-coret bajunya, mewarnai rambutnya dan hal-hal lain yang nampak lain-lain sehingga sering kelihatan mengganggu ketertiban lalu lintas dan lain sebagainya.
  2. Kadang seorang pemimpin perusahaan yang berhasil memperoleh untung/laba yang besar sehingga ia mengadakan berbagai kegiatan termasuk membagi-bagi hadiah dan lain-lain. 
  3. Lebih besar lagi misalnya seorang yang sukses dalam mencalonkan diri sebagai DPR dan lembaga pemerintahan lainnya, mereka nampak sekali dalam mewujudkan kegembiraannya dengan mengadakan berbagai pesta.
  4. Demikian juga para petani yang memperoleh hasil/panen yang banyak, maka mereka nampak sekali memperlihatkan gejala jiwa yang bahagia, puas dan lain sebagainya.

Walaupun penampakan  kesenangan, kebahagiaan yang diperoleh seseorang tersebut di atas sangat perlu diluruskan sehingga sesui dengan makna menyukuri nikmat, bukan membuat kesan sombong, boros dan lain sebagainya. Syukur nikmat (memahami nikmat, memelihara nikmat dan memanfaatkan nikmat tersebut) memang dianjurkan/diperintahkan Allah Swt. dan syukur tersebut Allah Swt. menambahkan lagi nikmat tersebut, tambahan itu mungkin dalam bentuk barakah/kwalitas, atau dalam bentuk materi langsung/kwantitas, itu rahasia Allah Swt. yang pasti Allah menambahkan lagi nikmat-Nya.

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". (Q.S. Ibrahim (14): 7).

Kesuksesan tersebut diperoleh dengan adanya kemampuan menciptakan suatu cara yang tepat dalam upaya memperoleh tujuan tersebut yang disertai dengan kerja keras, benar secara sistimatis yang penuh ketekunan secara terus-menerus. Kesuksesan bukan bagi orang yang kadang bekerja apa adanya, sangat sederhana sekali, tidak menunjukkan kesungguhan yang tinggi dan bukan juga bagi orang yang hanya dengan memperpanjang doa/dzikir pada waktu-waktu tertentu di tempat-tempat tertentu yang kadang melibatkan orang-orang tertentu yang dipandang ahli dzikir.

“Dan katakanlah: "Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mu'min akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan". (Q.S. At Taubah (9): 105).

Perintah Allah Swt. misalnya bekerjalah kamu tidak dibatasi oleh waktu dan ruang, jadi bekerja bagi kaum muslimin dan muslimah merupakan bagian tak terpisahkan dengan hidup dan kehidupan itu sendiri, maka sewajarnyalah jika selama hidup dan masih ada tenaga dan kesadaran, maka selama itu pula seorang senantiasa bekerja dengan keras dan benar sesuai dengan kemampuan yang ia miliki sebagai suatu proses untuk memperoleh kebahagiaan yang hakiki.

Menjadi terang dan jelas bahwa untuk memperoleh ketenangan jiwa dan raga diperlukan kemampuan menciptakan kondisi dan cara yang bagus yakni yang sesuai dengan sunnah Allah Swt. yang sering juga disebut hukum alam, misalnya menciptakan dan mengadakan suasana dan proses yang dapat secara mudah mengembangkan daya cipta dan  pengadaan lapangan kerja sehingga menjadi sulit dan bahkan malu orang jika disebut sebagai kelompok pengangguran dan lain sebagainya.  Manusia adalah khalifah dan hamba dari Al Khalik dan Al Baari’ yakni Maha Menciptakan Dan Maha Mengadakan, firman-Nya:

Dia-lah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Nama-Nama Yang Paling baik. Bertasbih kepada-Nya apa yang ada di langit dan di bumi. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Q.S. Al Hasyr (59): 24). 

Semoga.

0 komentar :