ASMAUL HUSNA (3-4) MAHA RAJA DAN MAHA SUCI

Kewajaran umat manusia adalah senantiasa ingin meningkat dalam segala urusan menuju pemenuhan kebutuhannya. Dalam hal kekuasaan, berkali-kali sejarahwan mencatatnya betapa banyak orang yang memunculkan dan meyakini dirinya sebagai raja yang mutlak, yang tidak dapat dibantah dan lain sebagainya, misalnya Fir’aun yang sampai diabadikan oleh Allah Swt. Firman-Nya. 
 “Dan Fir`aun berseru kepada kaumnya (seraya) berkata: "Hai kaumku, bukankah kerajaan Mesir ini kepunyaanku dan (bukankah) sungai-sungai ini mengalir di bawahku; maka apakah kamu tidak melihat (nya)”? (Q.S. Az Zuhruf (43): 51).

Walaupun demikian sejarah juga berkali-kali mencatat bahwa kesombongan, keangkuhan dan ketakabburan yang dilakukan oleh mereka tersebut semuanya hanya berakhir dengan kehinaan dan kehancuran, bahkan sangat menyedihkan  tentang bencana, musibah yang ditimpahkan Allah Swt. Sang Maha Raja yang sebenarnya pada mereka.
Dan ketika mereka ditimpa azab (yang telah diterangkan itu) merekapun berkata: "Hai Musa, mohonkanlah untuk Kami kepada Tuhamnu dengan (perantaraan) kenabian yang diketahui Allah ada pada sisimu[559]. Sesungguhnya jika kamu dapat menghilangkan azab itu dari pada Kami, pasti Kami akan beriman kepadamu dan akan Kami biarkan Bani Israil pergi bersamamu". (Q.S. Al ‘Araf (7): 134). [559] Maksudnya: karena Musa A.S. telah dianugerahi kenabian oleh Allah, sebab itu mereka meminta dengan perantaraan kenabian itu agar Musa A.S.memohon kepada Allah.

Allah Swt. Maha Raja dan Maha Suci, namun sebagai hamba-Nya yang senantiasa penuh keinginan dan usaha untuk mendapatkan ridha dari-Nya, maka menjadi suatu kewajaran dan kewajiban berkarya dan beramal untuk mendapatkan nikmat-Nya berupa amanah kepemimpinan dan mungkin kadang disebut kerajaan yang dijiwai dan diwarnai oleh kesucian sehingga dapat memberikan kedamaian yang nikmat.

Sangat jelas yang diharapkan adalah kepemimpinan dan atau kemungkinan disebut kerajaan yang secara terang dan hakiki dapat memberikan kenikmatan lahir dan batin kepada pribadi dan semua yang ada dalam kepemimpinan yang bersangkutan. Kerajaan yang penuh dengan aturan yang berlaku secara adil tanpa ada yang terzhalimi dalam semua aspek hidup dan kehidupan. Kerajaan yang di dalamnya hukum berjalan dengan tegas sehingga tidak terdapat kesan perlakuan hukum yang curang, yang hanya bersifat tebang pilih, hukum belah bambu dan lain sebagainya. Tidak terkesan hukum yang hanya membela orang pejabat, orang kaya dan meninggalkan rakyat biasa dan orang miskin.

109. Hadis Abu Hurairah R.A: Nabi Saw. bersabda: Sesungguhnya seorang imam (pemimpin) itu merupakan pelindung. Dia bersama pengikutnya memerangi orang kafir dan orang zalim serta memberi perlindungan kepada orang-orang Islam. Sekiranya dia menyuruh supaya bertaqwa kepada Allah dan berlaku adil maka dia akan mendapat pahala, akan tetapi sekiranya dia menyuruh selain dari yang demikian itu, pasti dia akan menerima akibatnya.

Adalah suatu kepastian bahwa kerajaan yang adil dan penuh kesucian, hanyalah kerajan atau kepemimpinan yang betul-betul bersandar secara mutlak dan benar terhadap aturan Sang Maha Raja  dan Sang Maha Suci yakni Allah Swt. dan juga pada hukum Rasul-Nya yakni Muhammad Saw. yang secara riil bersumber pada Al Qur’an dan Al Hadits serta akal yang taat secara murni kepada  Al Qur’an dan Al Hadits tersebut, sehingga dapat dipastikan bahwa tidak ada aturan yang berdasar pada keinginan hawa nafsu dan lain sebagainya. Pribadi yang kemungkinan besar dapat menjadi raja dan pemimpin yang benar hanyalah pribadi yang dapat menguasai jiwanya dan jasmaninya dan hal tersebut bukanlah sesuatu yang mudah, oleh sebab itu merupakan proses yang suci jika sedini mungkin setiap pribadi menjaga terus-menerus agar jiwa dan raga itu tidaklah mendorong untuk bertentangan dengan aturan Sang Maha Raja  dan Sang Maha Suci yakni Allah Swt. dan juga pada hukum Rasul-Nya yakni Muhammad Saw. Dan memohon hal itu kepada-Nya sebagaimana firman-Nya.
 “Katakanlah: "Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”. (Q.S. Ali Imran (3): 26).

Adalah hakiki dan fitrah manusia pada umumnya dan khususnya yang telah mengaku beragama Islam untuk senantiasa dan terus-menrus dengan penuh ketaatan yang tulus memohon kerajaan dan kesucian terhadap Sang Maha Raja  dan Sang Maha Suci sehingga semakin terpancarlah kemampuannya secara pribadi sebagai seorang yang benar-benar dapat menundukkan hawa nafsunya dan jasmaninya dalam mengabdi kepada Allah Swt. lewat ucapannya, lewat amalannya dan lain sebagainya.

Pemimpin umat, yang  jadi harapan adalah yang benar-benar memahami dan siap dalam hal-hal sebagai berikut:
  1. Menghadapi cobaan dan hambatan yang kadang benar-benar akan menghancurkan dan lain sebagainya.
  2. Menguasai, tempat ia sebagai pemimpin, umat yang ia pimpin, waktu ia sebagai pemimpin.
  3. Menghadapi semua tantangan bahkan lawan dengan penuh kebaikan dan keadilan, bukan dengan dendam dan bukan dengan kejahatan.

“Senantiasa bertasbih kepada Allah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (Q.S. Al Jumah (62): 1).

Semoga.

0 komentar :