ASMAUL HUSNA (33-34) MAHA AGUNG, MAHA PENGAMPUN


Kadang hati kita menjadi ada rasa iri, karena melihat orang seakan tiada berhenti dalam melakukan pengabdian pada Al ’Azhiim Yang Maha Agung, dan pada Al Ghafuur Yang Maha Pengampun. Mereka senantiasa berbuat agar dapat memenuhi kebutuhan diri dan keluarganya, ditambah lagi dengan memenuhi kebutuhan sosial kemasyarakatannya. Akhlak mulianya dia curahkan kepada semua lapisan, yang muda dia tunjukkan kasih sayang sedang yang tua dia menghargai dan lain sebagainya. Ternyata cara tersebut menjadi pondasi terbentuknya kepribadian yang semakin sempurna dan memiliki keagungan baik di mata sesama umat manusia demikian di hadapan Al ’Azhiim Yang Maha Agung. Mereka tiada hentinya memohon keagungan tersebut pada Al ’Azhiim Yang Maha Agung itu sendiri.


Kepunyaan-Nyalah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar. (Q.S. Asy Syura (42): 4).

Memohon keagungan pada Al ’Azhiim Yang Maha Agung dengan ketekunan berbuat, bekerja, beramal yang sesuai dengan petunjuk Al ’Azhiim yang ada dalam Al Qur’an dan yang sesuai dengan tuntunan Rasulullah Saw. Mereka tekun berbuat, bekerja, beramal atas dorongan iman, itu merupakan kewajiban dalam mengisi kesempatan hidup dan kehidupan. Para pekerja meyakini yang tidak mengisi kesempatan yang ada, mereka termasuk umat yang menganiaya dirinya tanpa ia sadari.  Karena pada dasarnya berbuat, bekerja itu adalah kewajiban hidup seseorang yang punya kesempatan.

Dan Katakanlah: "Bekerjalah kamu, Maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan. (Q.S. At Taubah (9): 105).

Mereka tekun berbuat, bekerja, beramal atas dorongan iman, itu adalah kewajiban dalam mewujudkan kebaikan dan waspada agar tidak terperdaya, tertipu oleh kenikmatan sesaat sehingga terjerumus dalam perlakuan dosa. Kewjiban tersebut termasuk usaha sadar dan berencana dalam menyiapkan kebutuhan pokok hidup yakni: - sandang, - pangan - papan - kesehatan - pendidikan - pekerjaan jika semuanya terpenuhi dengan wajar, itu satu keagungan.
 
Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. (Q.S. Al Baqarah (2): 195).

Mereka tekun berbuat, bekerja, beramal atas dorongan iman sehingga tidak ada waktunya yang berlalu dengan sia-sia.  Mereka sangat menyadari betapapun berhati-hatinya dalam beramal mesti saja ada kesalahan yang mungkin terjadi. Mungkin menyangkut hubungan sesama manusia dan mungkin berhubungan langsung dengan pelaksanaan ibadah khusus.  Mereka menyadarinya dan setiap saat ia memanjatkan permohonan ampun pada Al Ghafuur, Yang Maha Pengampun. Mukmin-mukminah yakin Allah, Al Ghafuur mengabulkan permohonan ampun dari hamba-Nya yang murni taubatnya.

Kecuali orang-orang yang taubat, sesudah (kafir) itu dan Mengadakan perbaikan[211]. karena sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Q.S. Ali Imran (3): 89).
[211] berarti berbuat pekerjaan-pekerjaan yang baik untuk menghilangkan akibat-akibat yang jelek dan kesalahan-kesalahan yang dilakukan. 

Mereka tekun berbuat, bekerja, beramal atas dorongan iman, semua itu adalah kewajiban dalam mewujudkan kebaikan.  Mereka yakin semua amalannya pasti dibalasi berlipat ganda oleh Al Ghafuur dan demikian juga kesalahan yang pernah ia lakukan, insya Allah, Al Ghafuur akan memberikan ampunan, yang terpokok ada usaha sungguh-sungguh beribadah yang baik sesuai aturan Islam dan senantiasa menyadari akan kesalahan, dosa sehingga sesegera mungkin bertaubat atas kesalahannya.

Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh, (bahwa) untuk mereka ampunan dan pahala yang besar. (Q.S. Al Maa’idah (5): 9).

Sebagai kesimpulan dari uraian singkat di atas yakni:

Demi mencapai keagungan atau kesempurnaan di dunia dan akhirat, diperlukan: berbuat, bekerja, beramal yang sungguh-sungguh sesuai dengan ketentuan Islam yang berkemajuan.

Sebagai pribadi yang penuh kelemahan, kesalahan, maka diperlukan ketulusan untuk segera bertaubat atas dosa yang pernah diperbuat sekalipun sungguh tidak disengaja.

Semoga.












0 komentar :