ASMAUL HUSNA (37-38) MAHA BESAR, MAHA PENJAGA


Allah, Maha Besar Maha Penjaga
 Al Kabiir Yang Maha Besar, yakni jika dipandang dari sudut: kuasa, Dia Yang Maha Kuasa,  ukuran besar, Dia Yang Maha besar, sekiranya ada ukuran dapat mengumpul semua makhluk ciptaan-Nya, maka itupun tetap Dia Yang Maha besar daripada semua  makhluk ciptaan-Nya yang terkumpul yaitu: manusia, hewan tumbuh-tumbuhan dan abiotik: air, tanah, batu, udara.


Bukan sesuatu yang dilarang dalam agama Islam jika ada yang bercita-cita memiliki kebesaran dalam suatu usahanya, hal tersebut adalah wajar, Al Kabiir dengan sifat Maha Kasih Sayang-Nya akan mencurahkan ridha kasih sayang-Nya kepada makhluk-Nya termasuk kepada hamba-Nya yang Ia kehendaki.  Al Kabiir dalam salah satu keterangan-Nya bahwa siapa saja yang mencari baik yang sifatnya dunia demikian yang sifatnya akhirat akan Dia kabulkan, berikan.  Dengan demikian jelas bahwa yang terpokok bagi seseorang adalah kesungguhan, semangat dan kebenaran, martabat dalam menjalankan suatu usaha. Jika itu terpenuhi maka Al Kabiir mesti memenuhi, memberikan, apa kehendak hamba-Nya tersebut,  firman-Nya:

 








Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. Barangsiapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala dunia itu, dan barangsiapa menghendaki pahala akhirat, Kami berikan (pula) kepadanya pahala akhirat. Dan Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur. (Q.S. Ali Imran (3): 145). 


Insya Allah kebesaran dalam arti yang luas tersebut diperoleh seseorang jika terlebih dahulu dipersiapkan jiwa, semangat:
1)      Keilmuan, akal yang tinggi (bukan asal berbuat).
2)      Daya cipta yang tinggi (bukan selalu ikut apa yang sudah ada).
3)      Semangat pengabdian yang tinggi (semua kegiatan semata hanya karena mencari keridhaan Al Kabiir).
4)      Jiwa ke-Islam-an yang tinggi (bukan memperturutkan hawa nafsu).
5)    Rasa, semangat tanggung jawab yang tinggi (bukan lempar batu sembunyi tangan), maka seterusnya dimantabkan dengan tawakkal dan permohonan kepada Al Kabiir.
   

Yang mengetahui semua yang ghaib dan yang nampak, Yang Maha Besar lagi Maha Tinggi. (Q.S. Ar Rad (13): 9).


Kebesaran yang mungkin sedang dimohon kepada Al Kabiir atau sedang dimiliki atas keridhaan dari Al Kabiir menuntut kewajiban untuk senantiasa menjaganya dengan sebaik-baiknya sehingga tahan dan berguna secara terus-menerus dalam waktu yang cukup lama. Jika dapat ia berdaya guna bahkan sedikitnya jika seumur dengan kebutuhan pemiliknya. Suatu kewajaran jika ada usaha secara teratur bermohon, berdoa kepada Al Hafiizh, Yang Maha Penjaga, agar dikaruniai, diberikan kemampuan untuk senantiasa memiliki kemampuan senantiasa menjaga, memelihara dan meningkatkan kebesaran yang sedang dimiliki dan yang sedang dikembangkan, ditingkatkan.
  


Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu apa (amanat) yang aku diutus (untuk menyampaikan)nya kepadamu. Dan Tuhanku akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain (dari) kamu; dan kamu tidak dapat membuat mudharat kepada-Nya sedikitpun. Sesungguhnya Tuhanku adalah Maha Pemelihara segala sesuatu. (Q.S. Hud (11): 57).

Sering didapati suatu usaha di tengah-tengah masyarakat yang betul-betul sangat dibutuhkan oleh publik, umum secara mendasar namun tiba-tiba usaha, kebutuhan tersebut menghilang dan lain sebagainya, misalnya tenaga listrik yang merupakan hajat orang banyak.  Demikian juga air minum, air bersih yang keduanya sungguh sangat diperlukan oleh orang banyak dalam hal hidup dan kehidupan lantas hilang. Hilangnya itu disebabkan karena tidak adanya paling  tidak kurangnya usaha penjagaan, pemeliharaan terhadapnya, atau munkin ada ususr kesengajaan untuk keperluan orang tertentu.

Suatu hal yang sangat disesalkan oleh kebanyakan orang, masyarakat Sulawesi Selatan pada umumnya adalah pihak yang diberikan tanggung jawab hal tersebut secara sengaja senantiasa mencari bagaimana membelokkan perhatian. Dengan pembelokan tersebut sehingga umum tidak paham bahwa sesungguhnya yang terjadi adalah kesalahan  dan atau ketidakpedulian terhadap pemeliharaan DAM secara baik yang sangat dibutuhkan umum. Misalnya pihak PLN memberikan alasan debit air kurang, ditampilkanlah foto (Pare Pos, 19 Oktober 2009)  yang sesungguhnya bukan itu yang perlu dilihat. Sebab yang perlu dilihat jika ingin diperlihatkan adalah DAM. Dengan kesalahan yang disengaja itu sehingga dibutuhkan hujan buatan yang nilainya sampai 2,3 milyar (Pare Pos, 20 Oktober 2009) yang sesungguhnya yang terbaik dan efesien serta efektif adalah uang rakyat yang besar itu dibelikan mesin besar dan pipa besar untuk pengerukan pasir, lumpur yang telah menggantikan air di DAM Bakaru Pinrang Sulawesi Selatan (yang diresmikan Presiden Soeharto tahun 1991). Dengan cara tersebut sehingga pengerukan bukan terkesan hanya memenuhi kebutuhan pemesanan pasir dan kerikil untuk bahan bangun yang mungkin sebagai bahan timbunan dan lain sebagainya.

Semoga Al Hafiizh, Yang Maha Penjaga, Maha Memelihara mencurahkan kepada kita sifat kemampuan memiliki dan mengamalkan ketekunan secara terus menerus menjaga dan memelihara dengan sebaik-baiknya. Semua nikmat yang telah dan yang akan diberikan kepada kita, sehingga nikmat tersebut dapat lebih berdaya guna, bermanfaat yang sebesar-besarnya di tengah-tengah hidup dan kehidupan masyarakat yang sedang berkembang, umumnya bagi kita bangsa Indonesia  dan khususnya bagi masyarakat Sulawesi Selatan.

Semoga.

0 komentar :