KHUTBAH IDUL ADHA 1434 H./2013 M. “DENGAN IBADAH HAJI & QURBAN KITA TINGKATKAN TAKWA PADA ALLAH SWT”


Hadirin, hadirat jamaah shalat Idul Adha yang kami hormati.

Allah Swt. menetapkan kewajiban haji kepada umat Islam walau sekali dalam seumur hidup, sebagai ibadah yang mengandung makna penghambaan yang luar biasa kepada Allah Swt. yang sesungguhnya hakikat kehidupan ini adalah penghambaan, mendekatkan diri semata-mata kepada Allah Swt. Dan bagi muslim, muslimah di belahan bumi yang tidak termasuk jamaah haji dan umrah, mereka menunaikan ibadah shalat Idul Adha dengan penuh khusyu’ dan keikhlasan serta menyemburkan darah-darah hewan qurban sambil mengumandangkan takbir, kebesaran, kesucian dan keesaan Allah Swt. sebagai wujud pengabdian pada Al Khaliq, pencipta alam semesta. Firman-Nya.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ (٥٦)

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (Q.S. Az-Zariyaat(51): 56).

Ibadah haji ditunaikan jika seseorang telah sanggup mendapatkan perbekalan dan alat-alat pengangkutan, sehat jasmani dan rohani, akal serta perjalanan dan lokasi semuanya dalam keadaan aman.

فِيهِ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ مَقَامُ إِبْرَاهِيمَ وَمَنْ دَخَلَهُ كَانَ آمِنًا وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلا وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ (٩٧)

Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim [215]; barang siapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah [216]. Barang siapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam. (Q.S. Ali Imran (3): 97).

[215] Maqam Ibrahim: tempat Nabi Ibrahim AS. berdiri membangun Ka'bah.
[216].Sanggup: orang yang sanggup mendapatkan perbekalan dan alat-alat pengangkutan serta sehat jasmani dan perjalananpun aman.

Allah Swt. dengan jelas dan terang benderang berfirman-Nya “Maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam” menjadi sangat jelas muslim, yang telah sanggup menunaikan ibadah haji dan umrah sebagaimana tersebut di atas, namun mereka belum tergerak hatinya, belum ada kesadaran untuk ibadah tersebut, bahkan mereka lebih mengutamakan penyempurnaan kebutuhan hidup mewah, maka sungguh tidak merugikan Allah Swt. sedikitpun, tetapi yang bersangkutanlah yang memikul dosa atas ketidakpedulian terhadap kewajiban tersebut. 


Semoga kita semua mendapat, bimbingan, ridha dan nikmat dari Allah Swt. sehingga ibadah haji yang telah dan yang akan kita tunaikan dengan sebaik-baiknya semata-mata karena Allah Swt. 




Hadirin, hadirat jamaah shalat Idul Adha yang kami hormati.

Seorang yang memulai rangkaian ibadah haji dengan diawali mengenakan pakaian ihram dan membaca lafazh talbiyah, mengungkapkan semangat penghambaan, pujian, mendekatkan diri dan ikrar aqidah tauhid semata-mata kepada Allah Swt.



Aku datang memenuhi panggilan-Mu Ya Allah, aku datang memenuhi panggilan-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu, aku datang memenuhi panggilan-Mu, sesungguhnya segala puji, nikmat dan segenap kekuasaan adalah milik-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu. 

Betapa jelasnya ikrar, pengakuan, penghambaan, pujian semata-mata kepada Allah Swt. keluar dari lubuk hati, sukma yang tulus dan berkumandang lewat mulut orang-orang yang berihram, haji dan umrah. Pengakuan kedatangannya dari negeri yang jauh, melintas samudera, daratan, angkasa raya dan benua, dengan biaya yang besar dan waktu yang cukup lama (kurang lebih 42 hari) hanya semata-mata memenuhi panggilan Allah Swt., tidak ada yang lain. Mewujudkan pengakuan: Allah itu satu, tidak ada sekutu bagi-Nya, pujian hanya untuk Allah, Al Khaliq, pencipta alam semesta termasuk umat manusia sebagai ciptaan-Nya yang paling sempurna. Dan kesempurnaan tersebut dimiliki secara abadi jika yang bersangkutan mendapat dan menerima ridha Allah Swt. sehingga ia komitmen, istiqamah pada iman, takwa serta memperbanyak amalan saleh.

لَقَدْ خَلَقْنَا الإنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ (٤)ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَ (٥)إِلا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَلَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍ (٦)

4. Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya 5. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka), 6. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya. (Q.S. At Tiin (95): 4 – 6).

Sangat jelas kerugian besar bagi jamaah yang melaksanakan ibadah besar, ibadah agung tersebut jika hanya dengan seadanya, tidak dengan penuh ketulusan yang luar biasa, ditanam, dikembangkan dalam sukma, 
kepribadian yang bersangkutan. 

وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ (٥)

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus [1595], dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus. (Q.S. Al Bayyinah (98): 5).
[1595] Lurus berarti jauh dari syirik (mempersekutukan Allah) dan jauh dari kesesatan.

Insya Allah kesengajaan, kesadaran jiwa menunaikan ibadah besar sebagaimana tergambar secara sederhana tersebut di atas yang dinamakan atau disebut niat yang sangat pokok kedudukannya dalam semua pelaksanaan ibadah, syariah Islam sebagaimana hadits:


1128. Diriwayatkan daripada Umar bin al-Khattab RA. katanya: Rasulullah Saw. bersabda: Sesungguhnya setiap amalan itu bergantung kepada niat. Sesungguhnya setiap orang itu akan mendapat sesuatu mengikut niatnya. Siapa yang berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu karena Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang berhijrah untuk mendapatkan dunia dia akan mendapatkannya atau karena seorang perempuan yang ingin dinikahinya maka hijrahnya itu mengikut apa yang diniatkannya.

Semoga kita dapat jaga benar, pelihara benar, kembangkan terus-menerus, niat suci, ibadah besar yang telah tertunaikan. Kita antisipasi jangan sampai pribadi, kelurga, masyarakat kita masih masuk jajaran yang dicap, yang digolongkan sebagai orang-orang pendusta agama. Orang tersebut walaupun shalat ditunaikan tetapi siksa, nerakalah yang menunggu mereka, nerakalah yang disiapkan Allah Swt. untuk mereka. Disebabkan perlakuan mereka terhadap anak-anak yatim, orang-orang miskin tidak baik bahkan mereka kadang menghinakan, sombong, angkuh terhadap para kaum yang lemah dalam status sosialnya. 

أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ (١)فَذَلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ (٢)وَلا يَحُضُّ عَلَى طَعَامِ الْمِسْكِينِ (٣)فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ (٤)الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلاتِهِمْ سَاهُونَ (٥)الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ (٦)وَيَمْنَعُونَ الْمَاعُونَ (٧)


1. Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? 2. Itulah orang yang menghardik anak yatim, 3. Dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. 4. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, 5. (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, 6. Orang-orang yang berbuat riya [1603], 7. Dan enggan (menolong dengan) barang berguna [1604]. (Q.S. Al Maa’uun (107): 1-7).

[1603] Riya ialah melakukan sesuatu amal perbuatan tidak untuk mencari keridhaan Allah akan tetapi untuk mencari pujian atau kemasyhuran di masyarakat.

[1604] Sebagian mufassirin mengartikan: enggan membayar zakat.


Hadirin, hadirat jamaah shalat Idul Adha yang kami hormati.

Jamaah haji khususnya dan kaum muslimin, umumnya, di tanah suci Mekah, dan di belahan bumi pada umumnya, mereka menyempurnakan, membulatkan, membaguskan ibadahnya pada tahun yang berjalan pada bulan akhir hitungan hijriyah, bulan zulhijjah dengan menyembelih, menyemburkan darah-darah segar hewan qurbannya. Dengan niat, kesengajaan, kesadaran semoga pribadi, keluarga, masyarakat dan bangsa semuanya siap dengan penuh kesucian lahir dan batin dalam memasuki awal bulan tahun berikut, bulan Muharram hitungan tahun hijjriyah.

Ibadah kurban dengan menyembelih, menyemburkan darah segar hewan ternak, seekor kambing untuk seorang muslim, dan seekor sapi, kerbau atau unta untuk tujuh orang muslim, pada tanggal: 10, 11, 12, 13, Zulhijjah merupakan simbol minimal keislaman, keimanan, ketakwaan dan ketaatan yang luar biasa, yang sangat sempurna bagi seorang hamba, pengikut Muhammad Saw. Sebagai pelanjut ibadah suci yang diteladankan Nabi Ibrahim AS. dan Ismail AS, kepada Allah Swt. Demikian sehingga pelaksanaan ibadah qurban akan terasa lebih bermakna apabila dibarengi dengan penghayatan pesan-pesan yang terkandung didalamnya.

Muslim, yakin dan percaya, secara mendalam bahwa bukanlah darah dan daging segar hewan kurban tersebut yang sampai pada keridhaan Allah Swt. tetapi pasti dan yakin bahwa yang sampai hanyalah nilai ketakwaan dan ketaatan yang murni, utuh sempurna semata-mata karena mengharap ridha Allah Swt.

لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ كَذَلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِينَ (٣٧)

Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik. (Q.S. Al Hajj (22): 37).


Hadirin, hadirat jamaah shalat Idul Adha yang kami hormati.

Meskipun sejarah qurban telah tua, seusia dengan peradaban manusia itu sendiri, yaitu tatkala Allah Swt. memerintahkan kepada putra-putra Nabi Adam AS. yakni Habil dan Qabil untuk mengorbankan sebagian hartanya guna mendekat diri kepada Allah Swt. Dan menjadi terang benderang Allah Swt. tidak menerima qurban, persembahan yang dilakukan dengan tidak ikhlas, sehingga dipilih yang tidak sempurna dan lain sebagainya untuk dijadikan qurban.

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ ابْنَيْ آدَمَ بِالْحَقِّ إِذْ قَرَّبَا قُرْبَانًا فَتُقُبِّلَ مِنْ أَحَدِهِمَا وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ الآخَرِ قَالَ لأقْتُلَنَّكَ قَالَ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ (٢٧)

Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). ia berkata (Qabil): "Aku pasti membunuhmu!". berkata Habil: "Sesungguhnya Allah hanya menerima (qurban) dari orang-orang yang bertakwa". (Q.S. Al Maaidah (5): 27).

Pelaksanaan ibadah qurban yang dilakukan oleh umat Islam saat ini adalah ibadah yang penuh dengan ujian yang sungguh berat dan luar biasa bagi Nabi Ibrahim AS. dengan putranya Nabi Ismail AS. susah diterima dengan akal sehat bahwa seorang yang tua baru memperoleh putra lantas disaat putra tersebut sudah sedemikian lincah, anak lelaki itu (Ismail AS.) dan telah dapat bekerja bersama dengan ayahnya, orang tuanya (Ibarahim AS.), Ibrahim AS. sudah umur tua baru dikarunia anak, tiba-tiba ada perintah untuk harus menyembelih anak tersebut.

Inilah ujian yang sangat luar biasa terhadap Nabi Ibrahim AS. dengan putranya Nabi Ismail AS. lewat Ar Ru’yah Ash Shadiqah (Mimpi yang benar) agar menyembelih anaknya (Ismail), namun demikian kuatnya ketaatan keduanya terhadap Allah Swt. sehingga baginya berdua tidak ada pilihan kecuali taat, dengan lapang dada, sami’na wa atha’na tunduk patuh pada apa yang datang dari Allah Swt. Dan sangat jelas ternyata Allah Swt. setelah terbukti ketaatan keduanya, Ismail AS. telah dengan penuh hormat dan takwa membaringkan menyandarkan badannya pada ayahnya siap untuk disorong pisau penyembelih, maka Allah Swt. dengan sangat tepat waktu yang ia kehendaki menggantikan Ismail AS. dengan seekor sembelihan yang besar, selamatlah mereka berdua dan lulus dengan pujian yang abadi terhadap Nabi Ibrahim AS.

قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا إِنَّا كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ (١٠٥)إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْبَلاءُ الْمُبِينُ (١٠٦)وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ (١٠٧)وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي الآخِرِينَ (١٠٨)

105. Sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu [1284] Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. 106. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. 107. dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar [1285]. 108. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian. (Q.S. Ash Shaaffat (37): 105-108).

[1284] Yang dimaksud dengan membenarkan mimpi ialah mempercayai bahwa mimpi itu benar dari Allah Swt. dan wajib melaksanakannya. [1285] Sesudah nyata kesabaran dan ketaatan Ibrahim dan Ismail AS. maka Allah melarang menyembelih Ismail dan untuk meneruskan korban, Allah menggantinya dengan seekor sembelihan (kambing). Peristiwa ini menjadi dasar disyariatkannya qurban yang dilakukan pada hari raya haji, pada tanggal: 10, 11, 12 13 Zulhijjah.

Perintah berqurban tersebut di atas lebih dikuatkan lagi dalam bentuk perintah Allah Swt. yang seakan-akan menagih kepada hamba-Nya, muslim, atas nikmat yang sungguh tidak dapat dihitung jumlahnya yang dilimpahkan pada pribadi, keluarga dan masyarakat pada umumnya.


إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ (١)فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ (٢)إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الأبْتَرُ (٣)

1. Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. 2. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berqurbanlah [1605]. 3. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus [1606]. (Q.S. Al Kautsar (108): 1- 3).

[1605] Yang dimaksud berqurban di sini ialah menyembelih hewan qurban dan mensyukuri nikmat Allah. [1606] Maksudnya terputus di sini ialah terputus dari rahmat Allah.


Hadirin, hadirat jamaah shalat Idul Adha yang kami hormati.

Harapan yang mendasar, besar dan mendalam semoga dengan pengkajian, pemahaman ulang tentang ibadah haji dan rangkaianannya terwujud dan tertanam mendalam sebagai berikut:

1) Jiwa persaudaraan, persatuan yang sungguh mengagungkan sehingga kepedulian kita secara pribadi, keluarga dan masyarakat nampak secara terus-menerus seluas dan sepanjang dengan kemampuan yang kita miliki. Hilang dendam, hilang permusuhan. Bahagia dunia dan akhirat.

لا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلا وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ… (٢٨٦)

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya … (Q.S. Al Baqarah (2): 286).

2) Ternyata iman dan takwa hanya, barulah bisa diyakini dan dimiliki jika telah lulus dari ujian dan ujian lagi. Ujian tidak terhenti hanya karena harta, ilmu dan jabatan seseorang, tetapi nabi pun ternyata masih diuji demi untuk jadi contoh bagi pengikut Muhammad Saw.


Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad [232] di antaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar. (Q.S. Ali Imran (3): 142).

[232] Jihad dapat berarti: 1. berperang untuk menegakkan Islam dan melindungi orang-orang Islam; 2. memerangi hawa nafsu; 3. mendermakan harta benda untuk kebaikan Islam dan umat Islam; 4. Memberantas yang batil dan menegakkan yang hak.

3) Senantiasa menyadari: tidak ada pilihan lain kecuali senantiasa mempertahankan hidup dengan iman dan takwa yang benar serta mati dalam keadaan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah Swt.
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam Keadaan beragama Islam. (Q.S. Ali Imran (3): 102).

Semoga.



Hadirin, hadirat jamaah shalat Idul Adha yang kami hormati. Marilah kita berdoa disertai harapan semoga diterima Allah Swt. untuk: pribadi, keluarga, masyarakat yang masih hidup dan yang telah mati serta bangsa dan negara kita N K R I .


رَبَّنَا لا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلا تُحَمِّلْنَا مَا لا طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ





File Dokument word dapat di download di sini  DOWNLOAD

0 komentar :