PENGANTAR FILSAFAT IBADAH (2)



A. Pengantar.
Manusia adalah makhluk percaya pada kadarnya masing-masing, telah memiliki kepercayaan/kesadaran berupa prinsip-prinsip dasar yang niscaya lagi rasional yang diketahui secara intuitif (common sense) yang menjadi kepercayaan utama sebelum ia merespon segala sesuatu di luar dirinya. Manusia percaya, yakin ada
kekuatan Yang Maha dalam segalanya di luar dirinya. Bagi muslim pemilik kekuatan dahsyat tersebut tidak ada lain kecuali Allah Swt.

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِدْنَا أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ (١٧٢)

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), Kami menjadi saksi". (kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)", (Q.S. Al ‘Araf (7): 172).

B. Pengertian Filsafat secara sederhana.
  1. Plato (427 SM-347 SM),filsuf Yunani murid Socrates dan guru Aristoteles. Ia mengatakan: filsafat adalah pengetahuan tentang segala yang ada (ilmu pengetahuan yang berminat mencapai kebenaran asli).
  2. Aristoteles (382Sm-322 SM) Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang meliputi kebenaran, yang didalamnya terkandung ilmu-ilmu metafisika (ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan hal-hal yang non fisik atau tidak dapat ditangkap panca indra),  logika, retorika, etika, ekonomi, politik, dan estetika (menyelidiki segala asas dan sebab segala benda).
  3. Prof. Dr. Fuad Hasan (guru besar Psikologi UI) menyimpulkan bahwa Filsafat: suatu ikhtiar untuk berpikir radikal (secara mendasar (sampai kepada hal yang prinsip).
  4. Al farabi berpandapat bahwa pada hakikatnya filsafat itu adalah satu kesatuan, oleh karena itu para filosof besar harus menyatujui bahwa satu-satunya tujuan adalah mencari kebenaran.
  5. Dr. Sidi Gazalba mendefinisikan filsafat Islam sebagai hasil pikiran manusi yang digerakkan oleh naqli (Al-Quran dan Sunnah). Disebut juga sebagai ilmu untuk membuktikan kebenaran wahyu dan sunnah yang memberikan keteranagn, ulasan tafsiran denagan pemikiran budi yang mempunyai sistem, radikal, dan global (umum).
  6. Menurut Fuad Al-Akhwani, Filsafat Islam adalah pembahasan meliputi berbagai soal alam semesta dan bermacam masalah manusia atas dasar ajaran-ajaran keagamaan yang turun bersama lahirnya agama Islam.
Definisi-definisi tersebut merupakan definisi filsafat secara umum dan definisi filsafat Islam. 1)

Dari sekian banyak literatur dan keterangan para cendekiawan umum dan muslim tentang arti dan makna filsafat dan ibadah, namun dapat kita ketengahkan yang singkat dan mencakup yang banyak itu, sebagai berikut:

Kata filsafat memiliki banyak arti, baik arti sempit maupun luas. Dalam hal ini filsafat ibadah terdiri dari dua kata yaitu filsafat dan ibadah. Filsafat itu sendiri diartikan secara etimologi memiliki arti bijaksana dan secara terminologi filsafat berarti mencari hakikat kebenaran. Orang yang memiliki jiwa filsafat, senantiasa dengan sungguh-sungguh mencurahkan waktu, tenaga, pikirannya untuk menemukan manfaat yang sesungguhnya tentang sesuatu sehingga mulai dari hal sekecil-kecilnya sampai pada yang sebesar-besarnya didapatkan manfaat. Temuan tersebut untuk keselamatan hidup manusia, dunia dan akhirat serta terjauh siksa api neraka.
الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ (١٩١)
  
(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan Kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah kami dari siksa neraka. (Q.S. Ali Imran (3): 191).
إِنَّمَا مَثَلُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا كَمَاءٍ أَنْزَلْنَاهُ مِنَ السَّمَاءِ فَاخْتَلَطَ بِهِ نَبَاتُ الأرْضِ مِمَّا يَأْكُلُ النَّاسُ وَالأنْعَامُ حَتَّى إِذَا أَخَذَتِ الأرْضُ زُخْرُفَهَا وَازَّيَّنَتْ وَظَنَّ أَهْلُهَا أَنَّهُمْ قَادِرُونَ عَلَيْهَا أَتَاهَا أَمْرُنَا لَيْلا أَوْ نَهَارًا فَجَعَلْنَاهَا حَصِيدًا كَأَنْ لَمْ تَغْنَ بِالأمْسِ كَذَلِكَ نُفَصِّلُ الآيَاتِ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ (٢٤)

Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu, adalah seperti air (hujan) yang Kami turunkan dan langit, lalu tumbuhlah dengan suburnya karena air itu tanam-tanaman bumi, di antaranya ada yang dimakan manusia dan binatang ternak. hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya, dan memakai (pula) perhiasannya[683], dan pemilik-permliknya mengira bahwa mereka pasti menguasasinya[684], tiba-tiba datanglah kepadanya azab Kami di waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan (tanam-tanamannya) laksana tanam-tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan (Kami) kepada orang-orang berfikir. (Q.S. Yunus (10): 24).
[683] Perhiasannya maksudnya: bumi yang indah dengan gunung-gunung dan lembah-lembahnya telah menghijau   dengan tanam-tanamannya.
[684] Menguasasinya maksudnya: dapat memetik hasilnya.

Dengan jiwa filsafat muslim senantiasa menajamkan akalnya, kecerdasannya dan bahkan mereka pantang/haram mengikuti sesuatu   yang ia tidak memahami selama itu bukan seruan Allah (Qur’an) dan Rasul-Nya, (Hadits). Muslim dalam menghadapi sesuatu selalu mendahulukan: apa, dari mana, untuk apa, mau kemana, setelah jalas baru ia menentukan sikap.
وَلا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولا (٣٦)

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggunganjawabnya. (Q.S. Al-Israa’ (17):36).

C. Pengertian Ibadah Secara Sederhana, mencakup yang umum.
Dalam Al-Qur'an, Hadits pengertian ibadah:  penghambaan, ketundukan, menepati jalan lurus kepada Khaliq, pencipta alam semesta, ditemukan melalui pemahaman antara lain sebagai berikut:
1.        Dengan kesadaran beragama Islam, maka konsekwensinya manusia melakukan ibadah:  penghambaan kepada Khaliq, pencipta alam semesta. Dalam ajaran Islam manusia diciptakan untuk menghamba kepada Khaliq, dengan kata lain beribadah kepada Allah Swt. yakni kewajiban menjalankan perintah dan kewajiban menjauhkan larangan-Nya.
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ (٥٦)
Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (Q.S. Adz-Dzaariyaat (51):56).
2.        Manusia yang menjalani hidup beribadah kepada Allah tiada lain adalah yang berada pada jalan yang lurus. Dengan kata lain beribadah: menepati jalan lurus dalam menuju, mencari, mengharap  ridha Allah Swt.
وَأَنِ اعْبُدُونِي هَذَا صِرَاطٌ مُسْتَقِيمٌ (٦١)
Dan hendaklah kamu menyembah-Ku. inilah jalan yang lurus. (Q.S Yaasiin (36):61)
3.        Ibadah: kepatuhan, ketundukkan yang ditimbulkan oleh perasaan, pengakuan terhadap kebesaran Allah Swt.  
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ (٥)
Hanya Engkaulah yang kami sembah[6], dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan[7]. (Q.S Al Fatihah (1): 5).
[6] Na'budu dari kata 'ibaadat: kepatuhan dan ketundukkan yang ditimbulkan oleh perasaan terhadap kebesaran Allah, sebagai Tuhan yang disembah, karena berkeyakinan bahwa Allah mempunyai kekuasaan yang mutlak terhadap alam  ciptaan-Nya.
[7] Nasta'iin (minta pertolongan), dari kata isti'aanah: mengharapkan bantuan untuk dapat menyelesaikan suatu pekerjaan yang tidak sanggup dikerjakan dengan tenaga sendiri.
4.    Dalam hadits arbain No. 2 secara tegas jiwa muslim yang tergolong muhsin saat ia menunaikan ibadah sangat mendalam kedekatannya pada Allah Swt.
اْلإِحْسَانِ، قَالَ: أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ   
Lalu beliau (Rarusullah)  bersabda: Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatnya, jika engkau tidak melihat-Nya maka Dia melihat engkau… (H.R. Muslim (hadits arbain No. 2).

Dengan demikian apa yang disebut manusia hidup beribadah kepada Allah itu: manusia yang dalam menjalani hidupnya selalu berpegang teguh kepada ajaran Islam jalan lurus. Jadi pengertian ibadah menurut Al Quran dan Hadits tidak hanya terbatas kepada apa yang disebut ibadah mahdhah atau Rukun Islam saja, tetapi cukup luas, seluas aspek kehidupan yang ada selama wahyu Allah dan sunnah Rasulullah memberikan pegangannya dalam persoalan itu.
Ibadah secara etimologi berarti: taat, tunduk, patuh dan sebagainya.

Sedangkan secara terminologi ibadah berarti: penghambaan diri terhadap Sang Khaliq (pencipta) dengan menjalankan segala perintah-perintah-Nya serta menjauhi larangan-larangan-Nya. Bahakan ibadah mempunyai arti yang luas seperti: shalat, zakat, puasa, dan haji, doa dan dzikir serta segala amal perbuatan yang diridhai oleh Allah Swt. 
Ibadah ungkapan yang mencakup segala apa yang dicintai, diisinkan Allah dan diridhai-Nya, baik berupa: perkataan, perbuatan, bathin, lahir. Shalat, zakat, shiyam (puasa), haji, jujur, menunaikan amanat, adil, berbuat baik kepada diri, kedua orang tua, keluarga, alam semesta, memenuhi janji, amar ma’ruf nahi mungkar, jihad yakni mengarahkan segala kemampuan dalam menghadapi sesuatu yang diridhai Allah, dan atau melawan orang-orang kafir serta orang-orang munafik. Berbuat kebajikan kepada tetangga, anak yatim, orang miskin, ibnu sabil (orang yang dalam perjalanan), dan kepada harta milik: baik dalam bentuk materi maupun hewan ternak, juga berdoa berdzikir, membaca Al-Qur’an dan kegiatan-kegiatan lain yang semisal, adalah termasuk ibadah.

Sesungguhnya kandungan dan luasnya cakupan ibadah di atas tersimpul dalam sari pati sabda Rasulullah Saw. dengan mengamalkan dan mengagungkan nilai, makna:
1.    Maha Suci Allah.
2.    Segala puji bagi Allah.
3.    Tiada Tuhan selain Allah.
4.    Allah Maha Besar.
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَأَنْ أَقُولَ سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ
(MUSLIM - 4861) … "Rasulullah Saw. telah bersabda: 'Sesungguhnya membaca doa, Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah, tiada Tuhan selain Allah, dan Allah Maha Besar adalah lebih aku cintai daripada segala sesuatu yang terkena oleh sinar matahari."

Dengan ibadah yang sempurna semakin kokohkan kepribadian sebagai mukmin, muttaqin yang penuh komitmen dalam segala tingkatan hidup dan kehidupan.
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ (٢)
Sesungguhnya orang-orang yang beriman [594] ialah mereka yang bila disebut nama Allah [595] gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal. (Q.S. Al Anfaal (8): 2).  [594] Maksudnya: orang yang sempurna imannya. [595] Dimaksud dengan disebut nama Allah ialah: menyebut sifat-sifat yang mengagungkan dan memuliakan-Nya.

D. Kelangsungan Ibadah Dalam Kehidupan Muslim.

Agar tepat dan benarnya serta terpeliharanya ibadah maka Allah mengutus para rasul-Nya, menjadi kewajiban bagi muslim senantiasa mendasarkan dan mempedomani Qur’an, dan Hadis dalam segala urusannya:
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ فَمِنْهُمْ مَنْ هَدَى اللَّهُ وَمِنْهُمْ مَنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلالَةُ فَسِيرُوا فِي الأرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ (٣٦)
Dan sesungguhnya kami telah mengutus Rasul  pada tiap-tiap umat ( untuk menyerukan):  “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut [826] itu”, maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (Raul-rasul). (Q.S. An Nahl (16): 36). [826] thaghut ialah syaitan dan apa saja yang disembah selain dari Allah Swt.

Pribadi muslim wajib beribadah yang sesuai syariat Islam, sepanjang hayat sadarnya, sesuai dengan kemampuan yang mereka miliki, kegiatan tersebutlah yang membedakan seseorang dengan yang lainnya.
وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ (٩٩)
Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang di yakini (ajal). (Q.S Hijr (15): 99).

Dengan ibadah yang benar, maka seorang akan terjauh dari sifat tercela seperti sombong, bakhil, boros dan lain sebagainya:
وَلَهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَمَنْ عِنْدَهُ لا يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِهِ وَلا يَسْتَحْسِرُونَ (١٩)يُسَبِّحُونَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ لا يَفْتُرُونَ (٢٠)
Dan kepunyaan-Nyalah   segala yang di langit dan di bumi, dan malaikat-malaikat yang disisi-Nya, mereka tiada mempunyai rasa angkuh untuk menyembah-Nya dan tiada (pula) merasa letih. 20. Mereka selalu bertasbih malam dan siang tiada henti-hentinya. (Q.S. Al Anbiya (21): 19-20).

E. Bahan pokok materi di atas adalah rukun iman dan rukun Islam sebagai berikut:

Rukun iman:
1.    Iman kepada Allah.
2.    Iman kepada Malaikat.
3.    Iman kepada Kitab Allah.
4.    Iman kepada utusan Allah.
5.    Iman kepada hari kiamat.
6.    Iman kepada qadha’ dan qadhar.
اْلإِيْمَانِ قَالَ : أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ[رواه مسلم]
Lalu beliau (Rarusullah) bersabda: “ Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhir dan engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk (H.R. Muslim (hadits arbain No. 2).
Rukun Islam:
1.    Syahadatain (dua kalimat syahadat).
2.    Mendirikan shalat.
3.    Menunaikan zakat.
4.    Berpuasa pada bulan ramadhan.
5.    Naik haji bagi yang mampu. 
قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَالْحَجِّ وَصَوْمِ رَمَضَانَ
(BUKHARI - 7) : Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Islam dibangun diatas lima (landasan); persaksian tidak ada ilah selain Allah dan sesungguhnya Muhammad utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, haji dan puasa Ramadlan".

F. Renungkan dan camkan dengan mendalam:
الَّذِي خَلَقَكَ فَسَوَّاكَ فَعَدَلَكَ (٧)فِي أَيِّ صُورَةٍ مَا شَاءَ رَكَّبَكَ (٨)كَلا بَلْ تُكَذِّبُونَ بِالدِّينِ (٩)وَإِنَّ عَلَيْكُمْ لَحَافِظِينَ (١٠)كِرَامًا كَاتِبِينَ (١١)يَعْلَمُونَ مَا تَفْعَلُونَ (١٢)إِنَّ الأبْرَارَ لَفِي نَعِيمٍ (١٣)
7. yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang, 8. Dalam bentuk apa saja yang Dia kehendaki, Dia menyusun tubuhmu. 9. Bukan hanya durhaka saja, bahkan kamu mendustakan hari pembalasan. 10. Padahal Sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), 11. Yang mulia (di sisi Allah) dan mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu), 12. Mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan. 13. Sesungguhnya orang-orang yang banyak berbakti benar-benar berada dalam surga yang penuh kenikmatan. (Q.S. Al Infitaar (82): 7-13).  

Semoga.

1) (https://semilicity.wordpress.com/2009/04/24/definisi-filsafat-islam/)

0 komentar :